Repost : Peliknya Tanjung Priok

11 07 2013

Banyak yang bilang bahwa Pelindo yang diuntungkan oleh kongesti di pelabuhan karena biaya penyimpanan barang. Saya rasa ini kurang tepat, dan RJ Lino menyampaikannya dengan cukup gamblang di artikel ini. Sejauh yang saya tahu juga, pendapatan utama operator pelabuhan memang dari jasa bongkar muat, jadi semakin tinggi throughput atau kontainer yang datang, operator semakin diuntungkan. Jika terjadi kongesti, dwelling time akan meningkat pesat dan mengakibatkan throughput kontainer menurun dengan signifikan. Jadi, kalau bicara soal kerugian, potential loss yang harus di tanggung oleh operator pelabuhan juga besar. Akhirnya, memang dibutuhkan kerelaan dari setiap stakeholder di pelabuhan untuk melepas ego masing-masing institusi supaya maslah kongesti di pelabuhan ini dapat teratasi.

_______________________________________________________________________________________

Proyek tol akses ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta yang belum selesai pengerjaannya, Jumat (31/5/2013). Pembangunan tol tersebut menyebabkan tersendatnya arus kendaraan. Kemacetan juga berdampak pada penurunan arus keluar masuk truk di Pelabuhan, dari rata-rata sebanyak 320 truk/jam menjadi hanya 280 truk/jam. | KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Proyek tol akses ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta yang belum selesai pengerjaannya, Jumat (31/5/2013). Pembangunan tol tersebut menyebabkan tersendatnya arus kendaraan. Kemacetan juga berdampak pada penurunan arus keluar masuk truk di Pelabuhan, dari rata-rata sebanyak 320 truk/jam menjadi hanya 280 truk/jam. | KOMPAS/HERU SRI KUMORO

KOMPAS.com – Persoalan kemacetan di Pelabuhan Tanjung Priok tidak selesai juga. Pelabuhan terbesar di Indonesia ini berulang kali didera persoalan kemacetan. Tidak hanya kemacetan di jalan raya, tetapi juga kemacetan di pelabuhan.

Sejak pekan lalu, Pelabuhan Tanjung Priok yang menampung 65 persen kegiatan ekspor impor mengalami kemacetan akut. Kali ini kemacetan pada arus peti kemas. Ribuan peti kemas menumpuk, sedangkan ribuan lainnya terus berdatangan. Dampak dari pertumbuhan ekonomi cukup tinggi.

Pengusaha melalui Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) berteriak. Mereka mengeluh karena untuk mengeluarkan barang memakan waktu lama. Saat ini dwelling time(waktu yang dibutuhkan barang untuk keluar dari pelabuhan sejak dibongkar dari kapal) mencapai sembilan hari. Padahal, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar hanya empat hari. Menko Perekonomian Hatta Rajasa menargetkan 6,4 hari. Kenyataannya saat ini bisa mencapai 17 hari.

Para pemangku kepentingan saling tuding. Asosiasi Logistik Indonesia dan Kadin menuduh PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) selaku operator terminal di pelabuhan tidak fokus bekerja.

Dikatakan, kemacetan di Tanjung Priok akan menguntungkan Pelindo karena biaya penimbunan peti kemas di pelabuhan semakin lama dan bertarif progresif. Kejadian ini bisa dihindari jika Pelindo mengantisipasi. Sebab, arus barang impor selalu meningkat menjelang puasa dan Lebaran. Jika diantisipasi, kemacetan tidak akan terjadi.

Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino membantah. Pelindo tidak mendapatkan banyak uang dari biaya penumpukan. Pelindo hanya mengutip Rp 4.000 per jam per kontainer atau Rp 96.000 per hari. Jika pemilik barang dikutip Rp 250.000 untuk biaya demurrage (penumpukan), uang itu tidak untuk pelabuhan, tetapi ke maskapai pelayaran.

Pendapatan terbesar Pelindo dari jasa bongkar muat kapal. Jika lapangan penumpukan penuh, kapal tidak bisa bongkar muat. Kondisi ini membuat Pelindo merugi.

Sebenarnya pengusaha pun punya andil dalam kasus ini. Pengusaha sengaja membiarkan barangnya di pelabuhan karena biaya penyimpanan di sana lebih murah daripada sewa gudang. Walaupun diterapkan tarif progresif, tetap saja biayanya lebih murah.

Namun, pengusaha menolak. Mereka beralasan tidak mendapatkan kepastian dari proses bongkar muat di pelabuhan. Mesin produksi tidak boleh berhenti bekerja. Karena itu, stok bahan baku harus selalu ada. Namun, menyimpan bahan baku juga memerlukan biaya besar karena ada biaya inventori. Oleh karena itu, mereka terus mendatangkan bahan baku, tetapi tidak segera mengambil barangnya dari pelabuhan.

Sementara itu, Lino menuduh lamanya proses dwelling time karena sistem di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai belum bagus. Petugas Bea dan Cukai tidak bekerja 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Demikian juga dengan instansi-instansi lain seperti perbankan, karantina, dan perdagangan. Di pelabuhan ada 18 instansi yang terlibat urusan arus keluar masuk barang.

Pemeriksaan barang akan lebih lama ketika barang masuk jalur merah di mana barang harus diperiksa secara fisik satu per satu. Jumlah barang yang masuk jalur merah sangat banyak, yakni mencapai 25 persen. Padahal, di negara-negara lain barang jalur merah hanya 5 persen.

Mengurai kemacetan di pelabuhan memang tidak mudah. Butuh komunikasi yang baik dan kerelaan semua pihak untuk menghapus ego masing-masing. Jalan keluar seperti bekerja 24 jam sehari, mengalihkan kapal untuk sandar ke pelabuhan lain seperti Semarang dan Surabaya ataupun memanfaatkan Dry Port Cikarang, dan menetapkan penalti bagi pemilik barang, butuh kelegaan semua pihak untuk menerimanya.

Semua pihak harus menyadari, masalah ini hanya menimbulkan ekonomi mahal yang merugikan negara dan rakyat. (M Clara Wresti)

 


Actions

Information

One response

12 07 2013
Seberapa Besar Pengaruh Dwell Time Terhadap Operasi Pelabuhan? | thestoryofwardana

[…] lanjuti artikel ini, ini, dan ini, saya ingin mencoba membuat kalkulasi sederhana tentang efek dari dwell time […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Visi Maritim

Laut adalah Penghubung, bukan Pemisah

daydreamer's diary

Just another WordPress.com weblog

Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Manda Riyanto

Pengetahuan adalah kekuatan

mylongjourney's Weblog

Just another WordPress.com weblog written by young energic boy

Renovatio

"The closer you look, the less you will see"

Grow up proper

A raw view on life

What Happened to the Portcullis?

An independent view on developments affecting Customs & Trade in sub-Saharan Africa

faisal basri

wear the robes of fire

maharsi c. anindhito

mari nikmati hidup. enjoy!

Lord Ubay's Blog

Anda yang menilai

bennythegreat.wordpress.com

the past that build the present and design the future

Blog Kemaren Siang

Wajah baru kemaren sore

Luckydc's Blog

It's Not How You Started Things, It's How You Decided To End Them

aa_fuady

catatan yang terserak

OomCakra's Blog

Just another WordPress.com weblog

Menghias Hari, Mengukir Sejarah, Menjaga Masa Depan

Ketika sadar menjadikan kita tersesat, langkah menghabiskan energi kita dan cinta membuat kita terus melangkah. Karena cinta, mengubah jalan berduri, menjadi kekuatan di hati

lequoaila

nothing personal, it's just my mind..

Sony S Wibowo

Just another Sony's weblog

%d bloggers like this: