Repost : Bobroknya Birokrasi Jalur Merah Bea Cukai di Pelabuhan

9 07 2013


Jika kita melihat penggalan cerita RJ Lino di artikel Transformasi IPC 1, bisa kita simpulkan bahwa memang bea cukai ini menjadi salah satu bottleneck produktivitas di pelabuhan, khususnya pelabuhan Tanjung Priok. Dulu mungkin masalah kinerja petugas bea cukai di gate ini tidak terlalu terekspos di media sehingga efek cambuk untuk memperbaiki diri kurang terasa. Sekarang, performa bea cukai di jalur merah sedang diekspos besar-besaran di media. Disaat traffic meningkat, performa bea cuka masih cenderung belum ada perubahan, akibatnya dwelling time menjadi tinggi, bahkan mencapai 9 hari (sebagai patokan, dwelling time di Singapura dan Rotterdam sekitar 1 hari). Akibatnya, para pengusaha menjerit karena menderita kerugian yang signifikan dan akhirnya mengadu pada media dan lembaga terkait. Saking parahnya masalah ini dan adanya saling lempar tanggung jawab, pejabat menteri keuangan bahkan harus turun langsung ke lapangan. Padahal ketika masalah gate di artikel sebelumnya, menteri keuangan cukup menelepon dirjen terkait saja dan masalah langsung bisa diatasi. Jika kondisinya seperti ini, bisa dibayangkan tekanan media yang sangat besar tertuju kepada direktorat ini. Setelah inspeksi mendadak yang dilakukan menteri keuangan, untuk saat ini, dirjen bea cukai membuka pelayanan sampai pukul 23.00 untuk mengurai masalah di jalur merah ini. Semoga kedepannya direktorat ini bisa menjadi lebih baik lagi, sehingga harus berurusan dengan media dan menteri keuangan hanya karena prestasi, bukan sebaliknya. Akan tetapi, tidak cukup hanya direktorat ini saja, semua stakeholder di pelabuhan juga harus tetap melakukan continuous improvement dan bekerja sama untuk memajukan perekonomian Indonesia.

Penjelasan tentang jalur merah dan proses impor disini dan disini

_________________________________________________________________________________________

Jakarta – PT Pelindo (Persero) mengungkapkan tingginya proses bongkar muat barang (dwelling time) di Pelabuhan Tanjung Priok disebabkan banyaknya kontainer yang masuk Jalur Merah (JM) di otoritas kepabeanan.
Dwelling time merupakan total waktu yang diperlukan sejak kontainer keluar dari kapal yang datang hingga keluar dari pintu area pelabuhan.

Sebenarnya seperti apa mekanisme di Jalur Merah tersebut? Apa masalahnya?

Ekonom Dradjad Wibowo ternyata telah melakukan investigasi di Jalur Merah tersebut. Lewat beberapa aduan, ia mengungkapkan bobroknya birokrasi Bea Cukai di Jalur Merah pada beberapa pelabuhan Indonesia.

“Saya bahkan mendapatkan satu laporan pengaduan dari PT HMI yang dibuat tanggal 7 Juni 2013,” jelas Dradjad kepada detikFinance, Selasa (9/7/2013).

Dradjad memaparkan secara ringkas kasusnya tersebut:

  • PT HMI mengimpor 295 bundles steel section with boron. Kewajiban pabean sudah diselesaikan tanggal 6 Juni 2011
  • DJBC cq KPU BC Tanjung Priok menetapkan tarif dan atau nilai pabean yang mengakibatkan PT HMI harus membayar tagihan kekurangan BM (Bea Masuk) dan PDRI (Pajak Dalam Rangka Impor) sebesar Rp 1,58 miliar. Karena PT HMI keberatan, mereka mengajukan banding ke pengadilan pajak. Pengadilan mengabulkan seluruhnya permohonan banding PT HMI pada 30 April 2013.
  • Meski sudah kalah di pengadilan, DJBC tetap belum mengizinkan pengeluaran barang. Akibatnya barang tertahan selama 730 hari hingga saat ini.

“Inkompetensi dan arogansi birokrasi seperti ini jelas tidak bisa ditolerir. Ini menjadi contoh khas bagaimana birokrasi Kemenkeu membunuh pelaku usaha. Ini bukan kasus pertama, dan tampaknya bukan yang terakhir Menkeu tidak menghentikan arogansi aparatnya. Seharusnya, aparat seperti ini bisa dipidana badan karena kezholimannya,” tutur Dradjad.

Yang lebih ironis, sambung Dradjad, Bea Cukai mempunyai proporsi Jalur Merah yang luar biasa besarnya. Umumnya di seluruh dunia, proporsi Jalur Merah itu sekitar 5% dari total dokumen dan atau nilai impor barang.

“Memang bagi beberapa negara dengan tingkat ketidakpatuhan tinggi, proporsi tersebut lebih besar. Wajar, karena BC negara tersebut harus lebih prudent. Namun Indonesia mempunyai proporsi Jalur Merah yang amat sangat berlebihan,” ungkapnya.

Sebagai contoh, pada tahun 2012 KPU (Kantor Pelayanan Utama) BC Tanjung Priok menerima dokumen PIB (Pemberitahuan Impor Barang) sebanyak 526.275 dokumen dengan nilai impor US$ 66,4 miliar. Jumlah kontainernya 1,69 juta kontainer, atau sekitar 141 ribu kontainer per bulan.

Ternyata proporsi Jalur Merah di KPU BC Tanjung Priok mencapai sekitar 22 persen. Ini berarti 4 kali lipat dari standar normal di dunia. Sebenarnya kalau proporsi Jalur Merah 8-10% mungkin bisa diterima mengingat risiko ketidakpatuhan di Indonesia.

“Hebatnya lagi, selama periode Januari sampai Juni 2013, JM di KPU BC Tanjung Priok bahkan naik menjadi hampir 26 persen dari 252.349 dokumen PIB,” ungkapnya.

Bagaimana dengan Kantor BC yang lain? Dradjad justru mengungkapkan lebih parah. Di Tanjung Perak proporsi Jalur Merah mencapai 26 persen pada tahun 2012, dan 32 persen pada semester pertama 2013.

Di Tanjung Emas, proporsi Jalur Merah pada tahun 2012 mencapai 48 persen, yang naik menjadi 56 persen pada semester pertama 2013.

“Kita bisa melihat pada tahun 2013 ini DJBC justru semakin memperbesar Jalur Merah, yang sebenarnya sudah gila-gilaan proporsinya. DJBC terlihat semakin birokratis, semakin menumpuk kekuasaan. Di sisi lain, mereka tidak mempunyai aparat yg jumlahnya memadai untuk memeriksa semua itu. Belum lagi DJBC tidak memberi pelayanan 24×7 (24 jam, 7 hari),” paparnya.

“Itu sebabnya terjadi penumpukan kontainer yang luar biasa di berbagai pelabuhan. Itu sebabnya rata-rataDwelling Time, menjadi lama sekali. Jika proporsi Jalur Merah diturunkan menjadi 8-10 persen, saya yakinDwelling Time dan penumpukan kontainer bisa turun drastis,” imbuh Dradjad.

“Saya tidak menginginkan kita kembali mengamputasi DJBC seperti jaman Orba dulu dan mengontrak lembaga asing. Namun sudah saatnya pemerintah merombak total DJBC mulai dari jajaran paling bawah hingga ke Dirjen-nya. Faktanya, DJBC saat ini sangat buruk dan lambat pelayanannya, menjadi salah satu bottleneck bagi lalu lintas barang, serta menyebabkan ekonomi biaya tinggi, inflasi, pelemahan daya saing dan kerusakan dunia usaha,” tambah Dradjad lagi

Oleh :Herdaru Purnomo

Sumber: Detik finance


Actions

Information

One response

11 07 2013
Seberapa Besar Pengaruh Dwell Time Terhadap Operasi Pelabuhan? | thestoryofwardana

[…] lanjuti artikel ini dan ini, saya ingin mencoba membuat kalkulasi sederhana tentang efek dari dwell time terhadap throughput […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Visi Maritim

Laut adalah Penghubung, bukan Pemisah

daydreamer's diary

Just another WordPress.com weblog

Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Manda Riyanto

Pengetahuan adalah kekuatan

mylongjourney's Weblog

Just another WordPress.com weblog written by young energic boy

Renovatio

"The closer you look, the less you will see"

Grow up proper

A raw view on life

What Happened to the Portcullis?

An independent view on developments affecting Customs & Trade in sub-Saharan Africa

faisal basri

wear the robes of fire

maharsi c. anindhito

mari nikmati hidup. enjoy!

Lord Ubay's Blog

Anda yang menilai

bennythegreat.wordpress.com

the past that build the present and design the future

Blog Kemaren Siang

Wajah baru kemaren sore

Luckydc's Blog

It's Not How You Started Things, It's How You Decided To End Them

aa_fuady

catatan yang terserak

OomCakra's Blog

Just another WordPress.com weblog

Menghias Hari, Mengukir Sejarah, Menjaga Masa Depan

Ketika sadar menjadikan kita tersesat, langkah menghabiskan energi kita dan cinta membuat kita terus melangkah. Karena cinta, mengubah jalan berduri, menjadi kekuatan di hati

lequoaila

nothing personal, it's just my mind..

Sony S Wibowo

Just another Sony's weblog

%d bloggers like this: